Blogger Layouts

Minggu, 18 Desember 2011

The Importance of Water Buffalos in Torajanese Tradition


I. LATAR BELAKANG
Indonesia terdiri dari beraneka macam suku dan ras juga memiliki beraneka ragam budaya dan tradisi yang sangat unik, salh satunya adalah suku Toraja dengan tradisi budayanya yaitu upacara kematian Rambu solo. Rambu solo adalah upacara kematian untuk orang yang sudah tua ( kakek-nenek), diadakan turun temurun di tanah Toraja, Sulawesi selatan yang diadakan dengan adat yang sangat kuat. Upacara kematian ini, berbeda dengan upacara-upacara kematian biasanya. Upacara kematian Rambu Solo ini diadakan dengan sangat meriah dan mewah layaknya sebuah pesta. Namun upacara kematian ini tidak sedikitpun melambangkan upacara kematian tetapi lebih berupa pesta perayaan! Karena itu upacara kematian ini sering disebut pesta kematian. Mereka meyakini bahwa dengan mengadakan upacara adat ini roh si mati dapat diiring sampai mencapai Nirwana keabadian. Pada upacara kematian ini penggunaan simbol-simbol sangat berperan penting, salah satunya adalah penggunaan simbol kerbau sebagai syarat utama dalam upacara kematian Rambu Solo. Rambu Solo adalah upacara kematian untuk menghormati orang tua yang telah mati sebagai pertanda hormat pada si mati atas jasa-jasa semasa hidupnya. Sama seperti adat-adat daerah lain yang menggunakan simbol sebagai perlambang atau tanda dalam suatu upacara adat. Begitu juga masyarakat tanah Toraja yang menggunakan simbol kerbau sebagai tanda mereka. Mereka meyakini bahwa kerbau inilah yang nantinya akan membawa roh si mati menuju nirwana alam baka ( roh si mati menunggangi kerbau). Kerbau di keseharian kehidupan masyarakat Toraja merupakan hewan yang sangat tinggi maknanya dan dianggap suci juga melambangkan tingkat kemakmuran seseorang jika memilikinya karena harga satu ekor kerbau bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

II.  Pembahasan 
Simbol adalah sesuatu yang biasanya merupakan “tanda” kelihatan yang menggantikan gagasan atau obyek. Dalam arti yang tepat simbol adalah “citra” atau imej yang menunjuk pada suatu tanda indrawi dan realitas supra indrawi, dan dalam suatu komunitas tertentu tanda-tanda indrawi langsung dapat dipahami, misalnya sebuah tongkat melambangkan wibawa tertinggi. Simbolisme dipakai sebagai alat perantara untuk menguraikan sesuatu.
Simbolisme juga sangat berperan dalam kebudayaan tanah Toraja. Simbolisme dipakai sebagai alat perantara untuk menguraikan sesuatu atau mengambarkan sesuatu misalnya pada pada pesta pernikahan, perayaan kelahiran dan pada upacara kematian. Dalam adat Sulasewi Selatan khususnya tanah Toraja pengunaan simbol-simbol erat sekali dengan kehidupan dan keseharian masyarakatnya.
Disini yang akan dibahas adalah simbol ” kerbau “ yang dipakai pada tradisi upacara kematian “ Rambu Solo “ di tanah Toraja. Keseharian masyarakat Tana Toraja, Sulawesi Selatan, tak bisa dipisahkan dengan hewan ternak kerbau. Ini berlangsung hingga sekarang. Bahkan, sebelum uang dijadikan alat penukaran transaksi modern, hewan bertanduk ini sudah kerap ditukar dengan benda lain. Selain memiliki nilai ekonomis tinggi, hewan bertubuh tambun ini juga melambangkan kesejahteraan sekaligus menandakan tingkat kekayaan dan status sosial pemiliknya di mata masyarakat.
Kerbau Tana Toraja memiliki ciri fisik yang khas ketimbang daerah lain, terutama pada warna kulitnya yang belang menyerupai sapi. Orang Toraja biasa menyebut jenis kerbau ini Tedong Bonga. Lantaran kulitnya yang aneh, maka kerbau belang memiliki arti penting dalam setiap ritual pesta kematian atau Rambu Solo. Kerbau ini diperlakukan secara khusus. Semenjak kecil sudah dikebiri oleh pemiliknya sehingga dianggap suci sebagai hewan kurban pada upacara Rambu Solo`.
Tak salah jika harga kerbau setengah albino ini menjadi mahal. Harga seekor hewan yang masuk golongan kerbau lumpur (Bubalus bubalis) itu kira-kira Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. Jumlah yang cukup besar memang. Selain kerbau belang, kerbau biasa pun juga akan dikurbankan dalam ritual Rambu Solo`. Salah satunya bernama Bantu Pako. Kerbau berbobot 200 kilogram, harganya bisa mencapai Rp 20 jutaan. Namun, hewan tersebut nasibnya hanya untuk diadu dan dikurbankan.
Makna Kerbau Zaman Dahulu
Dahulu kerbau hanya sebagai hewan yang biasa-biasa saja yang dipakai untuk mengarap atau membajak sawah dan digunakan sebagai alat tarnsportasi rakyat yang sangat kuat. Kerbau sangat membantu didalam kelangsungan hidup masyarakat. Namun seiring bergesernya kerbau semakin dihargai karena memiliki andil besar dan berjasa didalam membantu kegiatan kerja juga kelangsungan hidup masyarakat Toraja. Selang waktu berlalu akhirnya penghargaan kepada hewan kerbau ini semakin lama semakin besar dan hewan kerbau ini didaulat dan diangkat sebagai simbol masyarakat tanah Toraja yang dianggap sangat membantu kelangsungan hidup masyarakat Tanah Toraja, karena membantu mengolah dan menyuburkan tanah persawahan mereka sebagai lumbung hidup mereka.
Makna Kerbau Sekarang
Seiring waktu berlalu akhirnya kerbau sebagai simbol masyarakat Toraja memiliki nilai yang sangat tinggi di mata masyarakat toraja dan menjadi alat tukar dengan benda lain dan akhirnya satu ekor kerbau pun memiliki nilai jual yang sangat-sangat tinggi dan tidak terjangkau oleh kaum strata bawah karena harga jualnya yang sangat tinggi dan daya beli kaum bawah tidak menjangkau. Dahulu kerbau ini digunakan dalam upacara-upacara adat oleh seluruh lapisan masyarakatvtanpa mengenal strata sosial. Namun seiring berputarnya waktu terjadi pergeseran nilai budaya dan kerbau sebagai hewan kurban yang hanya biasa-biasa saja berubah makna menjadi hewan yang sangat istimewa dan dianggap suci juga bernilai tinggi sekali bagi masyarakat Toraja, apalagi dalam upacara-upacara adat yag besar di tanah Toraja seperti salah satunya upacara adat ternama dan terbesar yaitu upacara kematian “ Rambu Solo “ yang mengunakan kerbau sebagai simbol paling utama sebagai hewan kurban dalam puncak acara prosesi upacara kematian Rambu Solo ini. Tidak layak dilaksanakan upacara Rambu Solo ini jika tidak ada kerbau untuk dikurbankan. Juga di mata masyarakat tanah Toraja kerbau pun menjadi hewan yang melambangkan kesejahteraan sekaligus menandakan tingakt kekayaan dan sebagai status sosial bagi pemiliknya di mata masyakarat.





1.Menakar Nilai Kerbau
Walaupun secara umum kerbau mempunyai nilai sosial tinggi, namun orang Toraja mempunyai cara menilai kerbau mereka. Tinggi rendahnya nilai kerbau tergantung pada mutu kerbau menurut penilaian yang berlaku umum, dan nampaknya sudah dipakai turun temurun sejak jaman nenek moyang. Penilaian ini juga berlaku bagi para pedagang kerbau saat ini dalam menentukan harga. Secara umum, orang Toraja menilai kerbau dari tanduk, warna kulit dan bulu, dan postur, serta tanda-tanda di badan. Mutu kerbau dapat dilihat dalam cara orang Toraja sendiri mengelompokkan kerbau berdasar jenis yang mereka kenal. Salah satu bukti demikian pentingnya kerbau dalam kebudayaan orang Toraja adalah dengan adanya sejumlah kategori dari berbagai macam jenis kerbau. 


2. Berdasarkan Tanduk 
Tanduk kerbau menentukan nilainya. Namun, peran tanduk bagi kerbau jantan lebih penting dibandingkan pada kerbau betina. Biasanya ukuran dan bentuk tanduk kerbau betina tidak terlalu diperhitungkan. Tidaklah demikian dengan kerbau jantan. Tanduk kerbau menjadi alat dekoratif yang bermakna dalam masyarakat. Di rumah-rumah tongkonan tanduk kerbau disusun di depan rumah, sebagai simbol status seseorang atau tongkonan. Nilai satu kerbau muda ditentukan oleh pajang tanduknya. Semakin panjang maka semakin berharga. Harga otomatis akan turun bila terdapat cacat pada tanduknya, atau bentuknya tidak proporsional dengan badan kerbau. Ukuran ini dipakai dalam transaksi yang memakai kerbau. Umumnya, kerbau dipakai sebagai alat pembayaran dalam transaksi jual beli tanah sawah atau kebun, gadai dan dalam pesta kematian. Sebagai alat ukur, orang Toraja memakai ukuran anggota badan,( tangan). 


3. Ukuran 
1. sang lampa taruno, artinya ukurannya sama dengan panjang ruas ujung jari tengah orang dewasa. 
2. duang lampa taruno, artinya ukurannya sama dengan panjang dua ruas jari tengah orang dewasa. 
3. sang rakka’, artinya ukurannya sama dengan panjang satu jari tengah orang dewasa. 
4. limbong pala’, artinya ukurannya sama dengan panjang setengah telapak tangan orang dewasa. 
5. sangkumabe’ artinya ukurannya sama dengan panjang telapak tangan orang dewasa. 
6. sang lengo, artinya ukurannya sama dengan panjang ujung jari hingga pergelangan tangan orang dewasa. 
7. sang pala’, artinya ukurannya sama dengan panjang pergelangan tangan ditambah empat jari. 
8. sang busukan ponto, artinya ukurannya sama dengan panjang pergelangan tangan ditambah setengah lengan tangan orang dewasa. 
9. alla’ tarin, artinya ukurannya sama dengan panjang hingga di atas siku 
10. inanna, artinya ukurannya melewati siku. 


4. Bentuk 
Selain ukurannya, bentuk tanduk juga mempunyai arti penting dalam memberi nilai pada kerbau. Orang Toraja membedakan bentuk tanduk sebagai berikut: 
1. tanduk tarangga yaitu tanduk yang keluar dan membentuk setengah lingkaran. Jenis ini sangat umum di Toraja. Untuk kerbau jantan, jenis ini sangat kuat dalam adu kerbau. 
2. tanduk pampang yaitu tanduk yang keluar melebar dan cenderung panjang. Tanduk jenis ini biasanya terbentuk dari kerbau balian. Kerbau yang buah pelernya sengaja dilepas untuk memperindah tanduk. 
3. tanduk sikki’ yaitu tanduk yang arahnya hampir sama dengan tarangga namun cenderung merapat bahkan ujungnya nyaris bertemu. 
4. tanduk sokko yaitu tanduk yang arahnya turun ke bawah dan hampir bertemu di bawah leher. Dengan warna tertentu nilainya menjadi sangat mahal. 
5. Tekken Langi’ yakni tanduk yang mengarah secara berlawanan arah, satu ke bawah dan satu ke atas. 


5. Berdasarkan Warna 
Selain bentuk dan ukuran tanduk, kesempurnaan seekor kerbau ditentukan oleh warnanya. Warna juga menentukan nilai kerbau. Secara garis besar, masyarakat Toraja mengenal tiga kategori warna berikut variasinya: bonga, puduk, dan sambao’. 
Dari tiga kategori ini masih terdapat variasi warna. Yang pertama mempunyai nilai relatif mahal, menyusul kedua dan ketiga. 
(1) Bonga 
Bonga adalah kerbau yang berwarna kombinasi hitam dan putih, diangap paling cantik, harganya puluhan sampai ratusan juta. Kerbau juga dapat ditemukan di masyarakat TO Bada, Sulawesi Tengah, Sumba, Flores, Roti dan Timor (Nooy-Palm, 1979). Namun secara proporsional sangat jarang. Di Toraja sendiri jenis ini sangat jarang. Kelahiran kerbau belang bagi pemiliknya merupakan suatu berkah. Upaya untuk perkawinan silang pun jarang sekali berhasil. Jadi kelahiran bonga sangat kebetulan. Satu kerbau bonga biasanya dinilai antara 10 hingga 20 kerbau hitam. Bonga memiliki beberapa variasi dari segi kombinasi warna dan tanda-tandanya. 
a. Bonga saleko atau bonga doti adalah jenis yang warna hitam dan putih hampir seimbang, dan ditandai dengan taburan bintik-bintik di sekujur tubuhnya. Harga bonga Saleko bisa mencapai ratusan juta. Menurut Yunus, Harga pasaran sekarang ini sekitar 350 juta. 
b. Bonga sanga’daran adalah jenis yang di bagian mulutnya dinominasi warna hitam 
c. Bonga Randan dali’ adalah jenis bonga yang alis matanya berwarna hitam. 
d. Bonga Takinan Gayang, adalah jenis yang di punggungnya ada warna hitam menyerupai parang panjang. 
e. Bonga ulu adalah jenis yang warna putih hanya di kepalanya, sedang bagian leher dan badan berwarna hitam. 
f. Bonga lotong boko’ adalah jenis bonga yang terdapat warna hitam di punggung 
g. Bonga bulan, adalah jenis bonga yang seluruh badannya berwana putih. Jenis ini lebih murah harganya dibanding pudu’ yang mencapai 20 juta rupiah. 
h. Bonga sori, adalah jenis bonga yang warna putih hanya dikepala bagian mata. Jenis ini harganya jauh lebih murah lagi. 
(2) Pudu’ 
Pudu’ umumnya berbadan kekar dan warna hitam. Kerbau jenis ini sangat kuat dalam bertarung. Pada acara adu kerbau pada pesta kematian, kerbau puduk umumnya tampil sebagai petarung yang kuat. Harganya biasanya setengah dari harga bonga. 
a. Balian adalah kerbau hitam yang dikeluarkan buah pelernya untuk membentuk tanduk yang modelnya proporsional serta semakin panjang. Makin baik dan panjang tanduknya semakin mahal. Balian yang bagus bisa dihargai 50 jutaan rupiah 
b. Pudu’ adalah kerbau yang sangat hitam, dan paling banyak populasinya di Toraja. Harganya bisa mencapai setengah harga saleko. 
c. Todik adalah kerbau hitam dengan bintang putih di atas kepalanya 
(3) Sambao’ 
Jenis ini adalah yang paling kurang nilainya. Warnanya abu-abu bahkan kecoklatan hampir mendekati warna sapi. Sambao’ adalah kerbau yang warnanya abu-abu dianggap paling murah nilainya. 
Selain itu dalam transaksi yang berhubungan dengan kerbau, masyarakat Toraja mengenal ukuran-ukuran. 
a. misa’ tedong artinya satu ekor kerbau utuh 
b. sang sese tedong atau seperdua kerbau 
c. sang tepo tedong atau seperempat kerbau 
d. sang leso tedong atau seperenam kerbau 
e. sang duluk tedong atau spertigapuluh dua kerbau 
f. sang katatae tedong atau seperenampuluh empat kerbau 


6. Pasar Bolu 
Di Toraja ada dua pasar ternak, yakni pasar Makale dan pasar Bolu. Dahulu kala, pasar Bolu yang berada di Kecamatan Rantepao, lebih dikenal dengan nama pasar Kalambe’. Walaupun tidak identik lagi sebagai pasar kerbau, di salah satu bagian pasar, disediakan pasar ternak, babi dan kerbau. Pasar hewan di Makale hanya untuk babi, jadilah pasar Bolu sebagai satu-satunya pasar resmi untuk kerbau di Kabupaten Toraja. 
Kini pasar Bolu tidak hanya menampung kerbau dari Toraja. Yunus, seorang pedagang kerbau  yang ditemui di Pasar Bolu menceritakan pada hari pasar, kerbau asal Toraja tidak lagi mendominasi. Kerbau yang ada didatangkan dari luar Toraja antara lain dari Endrekang, Pangkep, Makasar, Mamasa, Kendari, Palopo, dan Kupang. Kerbau asal Kupang, yang jumlahnya paling banyak, khusus dikapalkan dari Kupang ke Takalar, selanjutnya diangkut dengan truk ke Toraja. Para pedagang kerbau tinggal membeli di tempat. 
Namun demikian, Yunus dan pedagang-pedagang kerbau lainnya, masih sering ke kampung-kampung untuk membeli kerbau. Bagiamana pun, kerbau Toraja lebih khas, namun semakin menipis untuk memenuhi kebutuhan pesta yang berlangsung dari bulan Juni hingga Desember tiap tahun. 
Kerbau Toraja lebih besar dan lebih gemuk di banding kerbau lain yang ditemukan di wilayah lain di Indonesia, khususnya warna yang membuat kerbau itu menjadi sangat spesial. 
Di pasar Bolu, para pedagang kerbau ”memarkir” kerbau dagangan di lots-lots yang dibangun oleh Pemda setempat. Yunus sendiri masih harus memelihara kerbau dari luar Toraja untuk menambah nilai jualnya. Yunus mempekerjakan beberapa pegawai untuk memelihara kerbau, memandikan, memberi makan, membawanya ke sungai untuk direndam, diikat dengan tali yang disangkutkan pada hidung kerbau yang dilubangi supaya badan kerbau terbentuk dan kuat. Umumnya yang diperlakukan demikian adalah kerbau jantan. Kerbau-kerbau itu direndam selama berjam-jam di sungai sebelum diberi makan dari rumput yang masih segar. Warnanya akan lebih menonjol, ada garis tegas antar warna hitam atau putih. Selain itu, dengan direndam tanduknya akan terbentuk dengan bagus. Warna, bentuk dan ukuran tanduk memang sangat menentukan nilai kerbau jantan. 


7. Sudut Pandang Metafisis
Mereka mempercayai bahwa roh si mati menunggangi salah satu kerbau yang teristimewa ( kerbau belang/bonga) dan kerbau-kerbau hitam lainnya menjaga dan mengiringi perjalanan roh si mati menuju alam nirwana keabadian dan juga semakin banyak kerbau yang dikurbankan semakin cepat dosa si mati terhapuskan dan mendapat tempat di sisi-NYA, dan makin banyak kerbau yang dikurbankan juga akan melambangkan kelayakan kehidupan sang mendiang di alam baka. Dan banyaknya kerbau yang dikurbankan selain menjaga keselamatan roh si mati menuju alam nirwana juga secara tidak langsung akan meninggalkan ketentraman batin bagi seluruh keluarga yang ditinggalkan didunia.
Menurut aturan mainya keluarga yang ditinggalkan harus mengorbankan banyak kerbau atau babi untuk si mati agar kerbau dan babi tadi dapat menjaga perjalanan si mati agar terhindar dari malapetaka yang akan muncul seiring perjalanannya menuju alam nirwana. Disamping itu apabila seseorang yang meninggal dan jiwanya keluar dari jasadnya dan kemudian masuk dalam phase kehidupan baru di alam puya ( alam baka ), dan bertemu dengan penguasa alam puya bernama Puang lalodongna , yang mendapat kekuasaan penuh dari Puang matua ( Tuhan ), untuk mengatur dan menertibkan kehidupan arwah-arwah manusia yang sudah meninggal. Pada saat arwah si mati menghadap puya , ia akan ditanya sudah seberapa baikkah upacara kematianmu dilaksanakan dengan baik sesuai aturan yang berlaku? Yaitu dengan banyaknya kurban kerbau-kerbau yang dipersembahkan! jika ternyata belum selesai dan tidak sesuai aturan yang benar maka arwah si mati tidak di perbolehkan memasuki puya ( alam baka ) dan harus kembali ke dunia semula dan hidup dalam dunia antara kematian dan kehidupan ( maya ) dan arwah-arwah yang ditolak inilah yang bergentayangan dan mengganggu manusia disekelilingnya.
Konsep ajaran orang Toraja tak melihat kematian sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Bagi mereka, kematian adalah bagian dari ritme kehidupan yang wajib dijalani. Walau boleh ditangisi, kematian juga menjadi kegembiraan yang membawa manusia kembali menuju surga, asal-muasal leluhur. Dengan kata lain, mereka percaya adanya kehidupan setelah kematian. Didalam upacara kematian Rambu Solo Kesedihan tidak terlau tergambar diwajah-wajah keluarga yang berduka, sebab mereka punya waktu yang cukup untuk mengucapkan selamat jalan kepada si mati, sebab jenazah yang telah mati biasanya disimpan dalam rumah adat ( tongkonan ), disimpan bisa mencapai hitungan tahun. Maksud dari jenazah disimpan ada beberapa alasan, pertama adalah menunggu sampai keluarga bisa atau mampu untuk melaksanakan upacara kematian Rambu Solo, kedua adalah menunggu sampai anak-anak dari si mati datang semua untuk siap menghadiri pesta kematian ini. Karena mereka menganggap bahwa orang yang telah mati namun belum diupacarakan tradisi Rambu Solo ini dianggap belum mati dan dikatakan hanya sakit, karena statusnya masih “ sakit “. Orang yang sudah meninggal tadi harus dirawat dan diperlakukan sebagai orang yang masih hidup. Pada masyarakat pemeluk Aluk Todolo ( agama kepercayaan masyarakat terdahulu ), juga pada sebagian keluarga yang telah menjadi kristen atau katolik, perlakuan tadi termasuk menyediakan makanan, minuman, rokok dan sirih. Pihak keluarga juga harus selalu menjaga agar “ si sakit “ tidak mendapat gangguan dalam bentuk apapun, termasuk menjaganya pada malam hari sampai pada diupacarakan baru bisa dikatakan “ mati/meninggal”. Karena lamanya jenazah disimpan dan ada bersama diantara orang-orang hidup dalam keluarga maka sedikit demi sedikit aroma kesedihan itu terkikis dan akhirnya sampai pada upacara kematiannya kesedihan tidak terlalu tergambar pada wajah-wajah keluarga yang berduka.


PENUTUP
KESIMPULAN
APA yang dilakukan dalam pesta Rambu Solo sesungguhnya hanyalah sebuah simbol. Simbol dari sebuah tradisi yang turun temurun. Sebab, dalam pelaksanaan upacara ini, ada yang lebih penting; ada makna yang terkait erat dengan kepercayaan masyarakat.
Bagi sebagian orang, tradisi ini bisa jadi dinilai sebagai pemborosan. Sebab, demikian besar biaya yang harus dikeluarkan untuk penyelenggaraannya. Bahkan, ada yang sampai tertunda berbulan-bulan untuk mengumpulkan biaya pelaksanaan upacara ini; bahkan yang menyatakan, orang Toraja mencari kekayaan hanya untuk dihabiskan pada pesta kematian.
Pandangan lain menyatakan, sungguh berat acara itu dilaksanakan. Sebab, orang yang kedukaan justru harus mengeluarkan biaya besar untuk pesta. Untuk diketahui, hewan-hewan yang dikorbankan dalam upacara itu, ternyata bukan hanya dari kalangan keluarga yang meninggal, tetapi juga merupakan bantuan dari semua keluarga dan kerabat. Selain itu, hewan yang dikorbankan itu juga dibagi-bagikan, termasuk disumbangkan ke rumah-rumah ibadah. Pesta ini sesungguhnya menjadi simbol dari upaya melestarikan tradisi tolong-menolong dan gotong-royong.
Bagi masyarakat Toraja, berbicara pemakaman bukan hanya berbicara upacara, status, jumlah kerbau yang dipotong, tetapi juga soal malu (siri'). Makanya, upacara Rambu Solo juga terkait dengan tingkat stratifikasi sosial. Dulunya, pesta meriah hanya menjadi milik bangsawan kelas tinggi dalam masyarakat ini. Akan tetapi, sekarang mulai bergeser. Siapa yang kaya, itulah yang pestanya meriah.
Dalam upacara Rambu Solo ini simbol kerbau sangat berperan penting didalam membentuk konsep kelas sosial atau strata sosial di mata masyarakat Toraja dan masyarakatnya mempercayai bahwa dengan banyaknya kerbau-kerbau yang dikurbankan akan lebih cepat mengantarkan roh si mati menuju nirwana keabadian, karena kerbau-kerbau inilah yang akan mengiringi perjalanan roh si mati menuju alam baka. Dan sama sekali tidak ada kesenjangan sosial pada masyarakat kalangan bawah yang tidak dapat melaksanakan upacara Rambu Solo ini karena dengan adanya upacara kematian ini juga membawa berkah bagi rakyat kalangan bawah karena mendapat bagian daging dari kerbau-kerbau yang dipotong/disembelih. Jadi dengan adanya kerbau sebagai simbol adat dengan kehidupan masyarakat Toraja dan terlebih dalam ritual kematian Rambu Solo ini dapat menjelaskan eksistensi dari penggelar ritual ini dengan mengedepankan kerbau sebagai simbol status dari pemiliknya.






DAFTAR PUSTAKA
Abdul Azis Said. Simbolisme Tradisional Toraja . Yogyakarta ,2004.
Yehuda Pandu. Pemerhati Budaya . Yogyakarta ,2004.
Pastor BS Romo Mardi USD. Tradisi Aluk Todolo Tanah Toraja . Yogyakarta ,2005.
Liputan 6 SCTV. Makna Kerbau di Tanah Toraja . Jakarta ,2005.
Suara Merdeka. Upacara Kematian Rambu Solo . Jakarta ,2005.

*Pusat Kajian Indonesia Timur, Universitas Hasanuddin

Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Ecoselebica PSL Unhas


Tedong Silaga
Pasar Bolu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar